Pengobatan HIV AIDS sebagai strategi untuk melindungi perempuan dan anak Indonesia dari infeksi HIV
Acara yang diadakan di FKUI pada tanggal 17 Desember 2012 ini
dihadiri oleh 150 orang peserta yang terdiri dari Dokter umum, Dokter
Spesialis, Mahasiswa, Dosen, ODHA, dan LSM. Pada sesi pertama, Prof
Zubairi Djoerban menyampaikan bantahan terkait laporan UNAIDS mengenai
peningkatan infeksi baru HIV di Indonesia yang mencapai 25%. Menurut
beliau, sebenarnya peningkatan itu menunjukkan banyaknya orang yang
dites HIV dan ternyata positif terinfeksi HIV. Berarti sebagian gunung
es sudah mulai terkuak keluar.
Selanjutnya mengenai HIV dan Kanker, beliau menjelaskan bahwa kanker
pada orang yang terinfeksi HIV tertinggi di Indonesia adalah sarkoma
kaposi, limfoma dan kanker serviks. Secara umum, kanker merupakan
penyebab kematian nomor 7 di Indonesia menurut data Riskesdas 2007,
sedangkan menurut data Kemenkes, kanker menyebabkan kematian tertinggi
kedua di Indonesia. Kanker 50% ada di negara berkembang. Apabila
pengobatan kanker bisa dilakukan lebih cepat, angka kejadian kanker bisa
menurun. Ada ODHA yang menderita kanker leukemia akut, Limfoma Hodgkin,
Limfoma Non Hodgkin, yang sembuh dari AIDS dengan treatment cangkok
sumsum tulang belakang. Beliau juga menegaskan bahwa Test and treat
sudah saatnya dimulai pada masyarakat umum. Negara yang sudah melakukan
ini adalah Amerika, China, Afrika, sedangkan Indonesia menyusul dengan
target 5 juta orang di tes HIV.
Pembicara selanjutnya adalah dr. Retno Wahyuningsih yang membahas mengenai infeksi jamur (mycosis) sistemik pada AIDS. Beliau menjelaskan bahwa jamur bisa ada di mana-mana, bisa pada pasien kanker dengan imunitas menurun dan mengakibatkan infeksi jamur di sekitar mulutnya. Imunitas menjaga jamur agar tidak menjangkit. Sedangkan pada orang yang terinfeksi HIV imunitasnya menurun lalu muncul IO berupa Cryptococcosis. Kematian akibat Cryptococcosis meningkat pada pasien TB. Cryptococcosis menyerang susunan saraf pusat pada penderita HIV.
Pembicara ketiga adalah Prof. Samsuridjal Djauzi, dengan tema Setelah
HIV Terkendali, Bagaimana Hepatitis?. Beliau menyatakan bahwa salah
satu cara pencegahan HIV adalah dengan melakukan treatment ARV bagi ODHA
untuk menurunkan risiko penularan. Angka Harapan Hidup masyarakat
Indonesia sekarang 70 Tahun, dan ODHA pun angka harapan hidupnya bisa
mencapai 70 tahun apabila melakukan treatment yang baik dengan ARV. Dari
tahun 2006-2008 angka kematian pada ODHA menurun dari 46% menjadi 17%
dan menurun sekitar 5% pada 2011. Pada ODHA yang terinfeksi hepatitis C,
treatment ARV memang menurunkan angka kematian, tetapi virus hepatitis
tetap ada dan tidak mati. Di Indonesia ada sekitar 8,4% atau 20 juta
orang yang terinfeksi Hepatitis B, di mana 5%-nya menjadi Hepatitis B
kronik. Sedangkan untuk Hepatitis C ada sekitar 0,8% dan 1 juta orang di
antaranya menjadi hepatitis C kronik, 70% di antaranya adalah pengguna
jarum suntik. Vaksinasi dan pengobatan hepatitis B dan C masih mahal di
Indonesia. Ada obat yang tidak bisa dijangkau oleh orang dengan
Hepatitis B kronik karena hanya diberikan gratis pada orang dengan HIV
positif. Diharapkan harga obat untuk penderita hepatitis B dan C ini
bisa turun.
Pada sesi ke dua, dr. Evy Yunihastuti, yang membahas Infeksi HIV pada
Keluarga memaparkan bahwa HIV berdampak pada fisik, psikologis dan
sosial. Dr. Evy juga menyebutkan bahwa 60% ODHA memiliki keinginan untuk
berkeluarga, 70%nya ingin menikah dengan pasangan yang tidak terinfeksi
HIV. Selain itu, 50% ODHA ingin memiliki anak.
Pembicara di sesi selanjutnya adalah dr. Irsan Hasan mengenai
Penatalaksanaan Hepatitis Kronik pada HIV: Tantangan dan Peluang. Beliau
menyampaikan bahwa angka kematian pada ODHA dengan Hepatitis meningkat
karena terjadi koinfeksi Hepatitis B dengan HIV dengan progresi 15%-40%
hepatitis B. Pada orang dewasa yang terinfeksi hepatitis B, bisa sembuh
tanpa mengkonsumsi obat-obatan berbeda dengan orang dewasa yang
terinfeksi HIV, risiko untuk sirosis hati dan mortalitasnya meningkat.
Pemberian obat hepatitis B dan C dalam jangka waktu yang lama
meningkatkan resistensi. Kalau orang dengan HIV dan hepatitis, mana
dahulu yang diberikan pengobatan? Dapat dilihat dari CD4-nya, kalau
nilai CD4nya kurang dari 300, maka didahulukan penanganan HIV-nya,
tetapi kalau nilai CD4-nya lebih dari 300, maka didahulukan HCV-nya
Pembicara terakhir pada sesi ini adalah dr. Hanny Nilasari, mengenai
Infeksi Menular Seksual dan Infeksi HIV. Beliau menyebutkan bahwa
Infeksi Menular Seksual (IMS) berisiko pada semua orang yang ada di
usia produktif yang melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan. IMS tidak menunjukkan gelaja. Jikapun menunjukkan gejala,
berupa munculnya keputihan, perih/panas, benjolan di kelamin dan luka di
kelamin
Pada Sesi III, Dr. dr. Surilena, menyampaikan materi mengenai Efek
Intervensi Berbasis Perilaku Emosional Rasional (Berbasis REBT) terhadap
Kepatuhan Pengobatan ARV pada Perempuan Terinfeksi HIV/AIDS. Menurut
beliau ada pergeseran transmisi HIV menjadi epidemisasi perempuan.
Beliau memaparkan hasil studi yang menyebutkan bahwa beban sosial ibu
rumah tangga dengan HIV mengalami gangguan mental 3 kali lebih besar
dari laki-laki dengan HIV, gangguan depresi 3 kali lebih besar dari
laki-laki dengan HIV dan gangguan cemas 2 kali lebih besar dari
laki-laki dengan HIV. Terapi perilaku emosi rasional membantu klien
mengenali keyakinan yang salah atau tidak logis untuk menghasilkan
keyakinan yang rasional dan positif terhadap ODHA perempuan melalui
model intervensi berbasi REBT dengan 8 sesi per minggu. Dari studi yang
dilakukan di Pokdisus AIDS FKUI dan Unit Diagnosis terpadu RSK Darmais
didapatkan bahwa 45% ODHA yang depresi tidak patuh minum ARV. Intervensi
berbasis REBT ini dapat membantu meningkatkan kepatuhan minum ARV
dengan perbaikan keyakinan irasional dan kesehatan mental emosional ODHA
perempuan.
Pembicara terakhir adalah Dr. dr. toha Muhaimin, MSc mengenai
Pengasuhan Anak pada Keluarga yang Terinfeksi HIV. Praktek pengasuhan
yang kurang baik berpengaruh pada kondisi psikologis dan fisik anak.
Pada anak yang kurang mendapatkan pengasuhan berisiko memiliki kualitas
hidup yang kurang baik 1,5 kali lebih besar dari anak yang mendapatkan
pengasuhan cukup






